Kamis, 17 Desember 2015
Rabu, 16 Desember 2015
Sejarah SABILUSH SHOLIHIN
SEJARAH
SABILUSH SHOLIHIN
Sabilush
Sholihin adalah lembaga yayasan dakwah Islam.Pada awalnya Sabilush Sholihin
bukan nama yang sesungguhnya melainkan nama yang sesungguhnya yaitu
‘’At-Ta’awun ‘’ yang artinya
“Tolong-menolong” Nama tersebut diberikan Oleh kiyai Banyu Anyar (kiyainya
Bpk.Drs.Muhammad Mansur,SH).
Dan waktu
demi waktu Bpk.Drs.Muhammad Mansur,S.H berinisiatif untuk mendirikan lembaga
yayasan Pendidikan Dakwah Islam yang beliau beri nama “Sabilush Sholihin” yang
memiliki arti “jalannya orang-orang yang soleh’’ .
Sabilush Sholihin
berdiri pada 28 November 1991 yang terletak di desa Pedeng kecamatan Socah
kabupaten Bangkalan yang memiliki letak strategis yaitu dipinggir jalan raya. Sabilush sholihin mengelola MDW
(Madrasah diniyah Wustho ), MDA (
Madrasah Diniyah Awaliyah ), TK/TPA ( Taman Kanak-kanak /taman pendidikan
Al-Quran ) & Raudhotul Atfal (RA), Setelah
itu tahun demi tahun dilalui beliau untuk mendirikan SMP ( Sekolah Menengah Pertama )
Sabilush Sholihin pada tahun 2010.
TUJUAN :
Salah satu tujuan khusus di dirikannya
Sabilush Sholihin yaitu untuk melayani masyarakat dalam hal dakwah dan
pendidikan dan tujuan secara umumnya yaitu mengacu pada perekonomian
masyarakat, kesehatan masyarakat,dan kegiatan sosial lainnya.
YANG IKUT SERTA MENDUKUNG:
Banyak yang mendukung diantaranya : yang
pertama dari keluarga yaitu Istrinya yang bernama Ny.Luamah beliau sangat
mendukung dan beliaulah juga yang selalu menemani sang suami untuk
memperjuangkan pendidikan walaupun pada waktu itu dalam keadaan susah dan
dengan jerih payah dan juga menemaninya sampai titik akhir perjuangan.Beliau hanya
bisa sabar dan tabah, yang kedua yaitu Masyarakat sekitar yang juga
menyemangatkan Bapak Mansur.
PROSES PEMBANGUNAN
:
Proses pembangunannya di laksanakan secara
bertahap dan secara sederhana ( Permanen & tidak Permanen ) dari swadaya
sendiri.
RESPON MASYARAKAT SEKITAR :
Tanggapan
dan respon masyarakat berawal dari acuh tak acuh yang kemudian berkembang
menjadi positif.
VISI & MISI :
VISI : Bertaqwa , berakhlak mulia, berprestasi
tinggi , kreaktif, dedaktif, berwawasan
lingkungan dan cinta tanah air.
MISI :
1. Menyiapkan
generasi yang taat dalam beragama ,ber Bangsa, dan ber Negara.
2. Mengembangkan pembelajaran yang aktif
,obyektif , kreatif dan inovatif.
3. Membangun
kehidupan sekolah yang demokratis dan berkarakter kebangsaaan.
4. Mengembangkan
minat bakat dan prestasi siswa.
5. Menciptakan
lingkungan sekolah yang rapi, rindang ,aman dan nyaman.
6. Menumbuhkan
sikap toleransi baik didalam maupun diluar serkolah.
Dengan tercapainya tujuan tersebut sekarang
SMP Sabilush Sholihin sudah mewisudai tiga angkatan siswa diantaranya:
Angkatan pertama sebanyak : 22 siswa
Angkatan ke dua sebanyak :17 siswa
Angkatan ke tiga sebanyak :11 siswa
Dan Alhamdulillah sekarang siswanya semakin
meningkat diantaranya : 25 siswa kelas VII, 35 siswa kelas VIII dan 13 siswa kelas IX dan insya
Allah nantinya akan lebih banyak siswa lagi dan tentunya siswa yang berkualitas
tinggi.
Setelah itu
pada tahun 2014 Beliau mendirikan SMA Sabilush Sholihin yang sekarang memiliki
12 siswa kealas X dan 13 siswa kelas XI.Dan beliau juga memiliki niat untuk
mendirikan perguruan tinggi.
PRESTASI YANG DIRAIH OLEH SISWA /I SMP SERTA SMA:
Banyak prestasi yang di raih diantara( SMP) :
·
Juara III melukis
·
Juara harapan III MAPEL Matematika
·
Juara harapan III Membaca Puisi
·
Juara I Story Telling
·
Juara II Membaca Puisi
·
Juara II Story Telling
·
Juara harapan III membaca puisi
Dan SMA
juga membawa Prestasi Yaitu Juara Lomba MAPEL Matematika harapan III. Dan
semoga sekarang dan nantinya akan mendapatkan prestasi yang lebih baik dari
sebelumnya dan menciptakan siswa yang bermanfaat bagi orang lain, karena orang
yang baik itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
TERDAPAT
PONDOK PESANTREN AT-TA’AWUN
Didalam
YASPENDAKI Sabilush Sholihin selain
terdapat TK, MD sederajat, SMP sederajat,dan SMA sederajat juga terdapat Pondok
Pesantren Yaitu At-Ta’awun ,didalam
PONPES tersebut bawalnya terdapat beberapa santri putra dan 3 santri putri.
Meskipun sedikit santri yang beliau didik beliau tidak pernah berhenti memberi
arahan atau nasihat-nasihat yang akan memberi manfaat bagi santri nya.Beliau mengajarkan
hal-hal yang pernah beliau lakukan dimasa beliau mondok karena pada saat beliau
mondok banyak keresahan yang dialami dan juga banyak hal-hal positif yang
membuatnya sukses dalam hal apa saja.
Yang sering beliau katakan pada santrinya yaitu :
SUKSES STUDY
SUKSES
MENGABDI kata tersebut dijadikan patokan untuk belajar bagi
santinya khususnya saya sendiri.
Dan sekarang santri yang terdapat di PONPES
At-Ta’awun semakin banyak.
Rabu, 09 Desember 2015
Biografi Pangeran Diponegoro
Biografi Pangeran
Diponegoro
Beliau
dilahirkan di Yogyakarta, 11 November 1785. Ia meninggal pengasingannya
di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun.
Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya
berada di Makassar. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang
raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta
dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang
garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran
Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalianseperti itu tidak disetujui Diponegoro.
Riwayat perjuangan
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.
Penangkapan dan pengasingan
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.
Tanggal 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar. Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden
Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Raden Ayu Citrowati adalah
saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. Nama Raden Mas Singlon
atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo snediri telah masuk dalam daftar silsilah
yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem KeratonYogyakarta.
Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.
Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.
Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo. Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.
Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.
Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.
Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo. Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.
http://www.biografiku.com/2011/09/biografi-pangeran-diponegoro.html
Langganan:
Komentar (Atom)
